Resah Dan Gelisah

0 55

Suatu ketika, datanglah kepada Ibnu Mas’ud seorang lelaki yang mengeluhkan kondisi jiwanya. Ia berkata, “Wahai sahabat Nabi, berilah nasihat yang dapat aku jadikan ubat bagi jiwaku yang sedang resah gelisah. Dalam beberapa hari ini, aku merasa tidak tenteram, hatiku terasa sempit, jiwaku gelisah, dan fikiranku kusut, makan tak enak, tidur pun tak nyenyak.”

Ibnu Mas’ud pun menjawab,
”Kalau penyakit itu yang menimpamu, bawalah hatimu mengunjungi tiga tempat, iaitu tempat orang-orang yang membaca Al Qur’an, engkau baca Al Qur’an atau engkau dengarkan baik-baik orang yang membacanya; atau engkau pergi ke majlis ilmu (ke tempat pengajian) yang dapat mengingatkanmu kepada Allah; atau engkau cari waktu dan tempat yang sunyi, di sana engkau berkhalwat menyembah Allah, misalnya pada sepertiga malam terakhir pada saat orang-orang tengah terlelap dalam tidurnya, engkau bangun mengerjakan solat malam, meminta dan memohon kepada Allah ketenangan jiwa, kejernihan fikiran, dan kemurnian hati. Seandainya jiwamu belum juga terubat dengan cara itu, mintalah engkau kepada Allah agar diberi hati yang lain. Sebab, hati yang kamu pakai itu bukan lagi hatimu.”

Orang itu pun segera pulang ke rumahnya, diamalkannya nasihat Ibnu Mas’ud tersebut dengan sungguh-sungguh. Dia segera mengambil air wudhu, diambilnya Al Qur’an, lalu dia membacanya dengan sepenuh hati. Setelah itu, hatinya menjadi lapang, kegelisahan beransur pergi berganti ketenangan yang mulai merasuk, fikiran pun menjadi jernih kembali.

“Tidak ada kebaikan dalam ucapan kecuali lapan perkara, iaitu: ucapan tahlil, takbir, tasbih, tahmid, permohonanmu terhadap kebaikan, perlindunganmu terhadap keburukan, seruanmu pada kebaikan dan laranganmu terhadap kemungkaran, serta tilawah Al Qur’an.”

Firman Allah:

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,
dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan solat,
yang mereka itu tetap mengerjakan solatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bahagian tertentu,
bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mahu meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya.

Kerana sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya,
kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang selain itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. Dan orang-orang yang memelihara solatnya.
Mereka itu (kekal) di syurga lagi dimuliakan.”

QS, Al Ma´aarij 70:19-35

والله أعلمُ بالـصـواب
Wallahu’alam bissawab

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.