Pengajaran Daripada Perseteruan Jokowi-Prabowo

196

Perseteruan Jokowi dan Prabowo sempena Pilpres 2019 adalah perseteruan yang mengamalkan code of conduct dua patriot dan nasionalis Indonesia sejati.

Walaupun keduanya memiliki prinsip, aturan dasar juga polisi yang berbeza untuk mentadbir Indonesia, tetapi mereka ada batas-batas yang mempengaruhi perseteruan dalam politik di Indonesia.

Di Malaysia mungkin telah ramai mengenali Jokowi, bagaimana beliau memenangi Pilpres 2014, mempamerkan dinamika kepimpinan juga karisma selayaknya seorang presiden Indonesia.

Tetapi pasti belum begitu ramai yang mengenali calon yang seorang lagi Prabowo, lawannya ketika itu dan dalam Pilpres 2019 ini nanti.

Aku pernah menulis tentang kehebatan ucapan Prabowo selepas kalah di tangan Jokowi pada 2014, kemudian bagaimana ucapan beliau memberi inspirasi kemenangan Anies-Sandi pada 2017 di dalam Pilgub DKI 2017 (Pilihanraya Gubernor Jakarta).

Berikut sedikit petikan ucapan Prabowo selepas tamat Pilpres 2014;

Dari sejak awal saya katakan bahwa pesaing kita adalah saudara kita juga. Memang ada pihak-pihak yang penuh kebencian, prasangka buruk, keserakahan, kedengkian dan jiwa yang curang. Tapi ingat dari awal saya menganjurkan kepada lingkungan saya, pendukung saya, sahabat-sahabat saya, apa yang saya tuntut dari diri saya sendiri yaitu berjiwalah sebagai seorang kesatria, sebagai seorang pendekar. Kalau ada pihak yang menebarkan kebencian, fitnah, kepada kita bukan berarti kita harus balas dengan sikap yang sama. Janganlah fitnah kita balas fitnah, janganlah kebencian kita balas kebencian. Janganlah kita bertindak sebagai individu yang berjiwa Kurawa.

Itulah sikap saya, dan karena itulah saya memilih jalan yang saya tempuh sekarang. Bukan berarti kita merendahkan nilai-nilai kita atau perjuangan kita. Semakin kita merasa benar, semakin pula kita harus rela menghormati orang lain, pihak lain. Kalau orang lain menghormati kita, kita menghormati orang tersebut. Bahkan kalaupun mereka tidak hormat pada kita, tidak ada salahnya kita menghormati terus. 

Saya mohon semua pendukung-pendukung saya untuk memahami hal ini. Saya mengerti sebagian dari saudara-saudara belum bisa menerima sikap saya. Tetapi percayalah, seorang pendekar, seorang kesatria harus tegar, harus selalu memilih jalan yang baik, jalan yang benar. Menghindari kekerasan sedapat mungkin. Menjauhi permusuhan dan kebencian.

Sahabat, kita bukan pihak penakut. Sejak dari masa muda, saya pernah hidup sebagai seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia. Berkali-kali saya terlibat dalam operasi-operasi militer, dalam kontak-kontak tembak dengan musuh negara. Saya paham apa artinya kekerasan. Karena itulah saya sadar bahwa seorang pemimpin sejati, pemimpin yang bertanggung jawab selalu harus memilih jalan yang sejuk. Apalagi kalau ini adalah untuk menjaga kepentingan, keutuhan bangsa yang kita cintai.

Sahabat, kita harus tetap militan, kita harus tetap patriotik. Kita harus menyiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan. Kalau kita hormat bukan berarti kita menyerah. Kalau kita sopan bukan berarti kita meninggalkan perjuangan kita. Tapi kita harus selalu berusaha mencari jalan yang damai, jalan yang baik. Kita harus selalu mengutamakan persaudaraan dan persahabatan.

Dengan roh dan semangat ucapan ini, ia menjadi inspirasi kepada pasca kemenangan Anies-Sandi sejak 2017, gema “Prabowo Presiden! 2019!” telah bergegar di ibu pejabat Partai Gerindra di Ragunan, Jakarta Selatan.

Hal ini kerana gabungan Anies-Sandi disokong oleh Partai Gerindra yang diketuai oleh Prabowo. Mereka berkongsi aspirasi dan kepemimpinan yang sama sepadan.

Aku percaya adab sebegini antara penyebab laungan untuknya menggegarkan Jakarta. Kemenangannya jika benar sebagai Presiden RI semasa Pilpres 2019 nanti jika diizinkan Tuhan, adalah yang telah tertulis lama, sejak Prabowo adalah pengalah pada Pilpres 2014 lagi. 

Jika Prabowo menang Pilpres 2019 nanti, sedarilah bahawa kekalahan beliau pada 2014 hanyalah sekadar kekalahan yang tertangguh semata-mata.

Di Malaysia, politik kita di sini sebaliknya terus menerus mencandu kita dengan khayalan tidak bertepi dan kebencian tanpa penghujung, selain fitnah dan adu domba yang tidak pernah berhenti dari satu PRU ke PRU yang lain dan dalam setiap PRK.

Ini belum mengambil kira janji-janji kosong pemimpin yang ditabur dan diulang-ulang hanya untuk memenangi PRU dan siri-siri PRK, tanpa memikirkan kesannya kepada ekonomi dan kestabilan sosiobudaya negara. Euforia jangka pendek lebih ditagih berbanding kesinambungan bernegara dalam jangka masa panjang.

Selain janji kosong dan benih-benih kebencian terus ditanam dan yang sudah masak ranum dituai, tidak pernah ada ucapan atau aspirasi mengajak rakyat Malaysia yang berbeza fahaman dan ideologi untuk sama-sama kembali kepada penyatuan nasional secara keseluruhan pasca PRU14 lalu, atau selepas siri PRK selepas itu.

Gambar adalah mengenai pertemuan mereka di Istana Merdeka selepas Pilpres 2014 tersebut. Prabowo dan Jokowi mengucapkan selamat sesama sendiri di Istana Merdeka, Jakarta.

Ia digelar sebagai saat bila Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto tabik atas kemenangan Jokowi dan dibalas dengan tunduk hormat Jokowi kepada perlawanan yang diberikan Prabowo semasa Pilpres tersebut. Prabowo menghargai sambutan sebagai tetamu ‘agung’ di kediaman rasmi Presiden Jokowi.

Pertemuan tersebut memperkuatkan iltizam mereka untuk terus sepakat bahawa perbezaan politik tidak mengakibatkan perpecahan bangsa. Prabowo ketika itu (dan masih lagi) mengatakan dirinya akan tetap bersikap kritis terhadap pemeritahan Jokowi, tetapi tidak akan menjadi destruktif atau membawa rebah.

Hatta perbezaan politik pun tidak mampu memecahbelahkan sesama bangsa Indonesia ini. Semangat nasionalisme mereka sangat tebal dan kebal sehingga tidak mampu ditembus apa-apa atau siapa-siapa.

Ironi sekali kerana foto ini diambil di Istana Merdeka yang juga mengadap Monumen Nasional, julangan obor yang menjadi simbol kemerdekaan dan lambang nasionalisme Indonesia.

Benar, Indonesia mungkin perlu mengejar kita dalam banyak perkara, tetapi mereka tidak pernah jemu mengajar kita di Malaysia tentang erti juga adab seteru dalam politik yang sejati. Indonesia lebih maju, jauh lebih maju dari kita tentang hal ini.

Indonesia, selamat memilih dan teruslah menjadi contoh yang baik kepada kami. Teruslah memberi teladan bagaimana mahu berseteru dan beradu dalam medan politik negara.

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.