Jokowi Dan Game Of Thrones

184

Dua topik hot minggu ni: Pilpres Indonesia dan permulaan musim terakhir siri “Game of Thrones”.

Kebetulan pada Oktober tahun lepas, Jokowi pernah upload satu lukisan yang menunjukkan beliau berdiri di sebelah takhta yang serupa dengan “Iron Throne” dalam cerita GOT, dengan caption:

“Ibarat serial Game of Thrones, kita menghadapi Evil Winter yang ingin menyelimuti seluruh dunia dengan es (ais) dan kehancuran. Berhentilah berebut kendali the Iron Thrones demi kebaikan bersama. Tidak ada artinya menjadi kekuatan ekonomi yang terbesar, di tengah dunia yang tenggelam.”

GOT ialah drama bersiri HBO yang berkisar tentang dunia fantasi Westeros di mana beberapa dinasti dengan nama Stark, Lannister, Targaryen, Baratheon dan lain-lain saling berperang untuk merebut Iron Throne yang memberi kuasa pemerintahan ke atas seluruh Westeros.

Pada waktu yang sama, sekumpulan makhluk jahat bernama White Walkers menangguk peluang untuk menyerang Westeros ketika musim sejuk. Penguasa-penguasa dinasti yang leka dengan perebutan kuasa membuka jalan kepada White Walkers untuk mencerobohi Westeros.

Maksud tersirat Jokowi ialah: kuasa-kuasa besar (US, China, EU) terlalu sibuk melancarkan perang perdagangan untuk merebut takhta adikuasa dunia, sehingga mengabaikan ancaman-ancaman yang memerlukan kerjasama semua negara (seperti perubahan iklim). Dunia akan hancur, kalau negara-negara hanya mementingkan diri dan mengabaikan kesejahteraan bersama sebagai satu komuniti antarabangsa.

Hanya orang yang ada “good grasp” tentang hubungan antarabangsa (IR) saja boleh keluarkan kata-kata sebegini. Kalau tanya 10 pakar IR, 10 akan prefer Jokowi melebihi Prabowo.

Dari pengamatan pelajar IR seperti aku, what’s at stake Pilpres bukan sangat pasal siapa lebih Islamik, atau siapa lebih pro-rakyat. Cara orang IR melihat dunia berbeda dengan orang awam melihat dunia. Orang awam lebih mementingkan isu “bread and butter” dan persepsi tentang keperibadian pemimpin. Orang IR pula lihat apakah impak seseorang pemimpin terhadap kedudukan negara, geopolitik serantau dan sistem antarabangsa.

Di kala dunia dilanda oleh populisme-nasionalisme, Jokowi memposisikan Indonesia sebagai suara moderat yang mempertahankan multilateralisme (semangat kerjasama pelbagaihala) dan perdagangan bebas, sesuai dengan status Indonesia sebagai “emerging great power”.

Berbanding dengan Prabowo, visi “polugri” Jokowi lebih jelas dan tersusun. Sejak tahun 2014 lagi Jokowi ingin transform Indonesia menjadi “Poros Maritim Dunia” dengan memanfaatkan keunikan geografi Indonesia sebagai penghubung dua samudera (Lautan Pasifik dan Lautan Hindi). Untuk menjadikan Indonesia sebagai “regional power”, Jokowi rasa ASEAN terlalu kecil bagi Indonesia, dengan itu Jokowi lebih banyak bercerita pasal “Pacindo” atau “Indo-Pasifik”.

Visi Jokowi ini datang daripada inner circle beliau yang dipenuhi dengan pakar-pakar IR seperti Dr. Rizal Sukma. Kalau dibandingkan, dalam team Prabowo tak ada pakar IR atau geopolitik; yang ada hanya propagandis seperti Fadli Zon yang memuja “authoritarian populist” seperti Trump dan Putin. 

Sebab tu kempen Prabowo guna slogan seperti “Mengutamakan Indonesia” (Indonesia First) yang mirip doktrin “America First” Trump. Kalau Prabowo menang, Indonesia akan jadi lebih proteksionis dari segi ekonomi, dan lebih “hardline” dalam mengurus hubungan luar dengan negara jiran serantau. 

Dunia dah cukup serabut, kalau Indonesia pun nak join pesta populisme-nasionalisme, memang disaster habis, lebih-lebih lagi Indonesia ialah ekonomi ke-5 besar Asia selepas China, Jepun, India dan Korea. 

Tapi tak semua orang awam boleh faham benda-benda macam ni. Selepas Jokowi tweet pasal GOT, Dradjad Wibowo daripada Partai Amanat Nasional (sekutu Gerindra) terus mempersoalkan motif Jokowi memetik GOT kerana dalam GOT ada banyak “adegan telanjang bulat dan kekerasan”. Orang buat analogi tentang ekonomi-politik antarabangsa, dia fokus kat adegan telanjang.

Sebab itu, penting untuk ilmu IR dan geopolitik dipopularkan, supaya jurang pemahaman tentang kepentingan negara antara elit dan orang awam tidak terlalu jauh. 

5 tahun bukan sekejap, bisa untuk mempersiapkan Indonesia menjadi salah sebuah dinasti hebat di “Westeros” yang bernama rantau Asia-Indo-Pasifik. Bertuahlah rakyat Indonesia kalau Jokowi menang lagi. 

Dan mungkin masa itu kita hanya mampu tengok dari bawah sahaja.

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.