Asal Usul Perkataan Marhaen

0
2047
views

Perkataan ‘Marhaen’ pada hari ini sering digunapakai oleh ramai individu khususnya politikus untuk mengambarkan rakyat bawahan yang orang bernasib baik di Tanah Melayu ini.

Ian juga turut sinonim dengan maksud ‘rakyat biasa’ sesuai dengan takrif yang dibawa oleh rakyat Malaysia.

Tapi tahukah kita perkataan ‘Marhaen’ mula diperkenalkan oleh Presiden Republik Indonesia yang pertama, Soekarno.

Siapa sebenarnya ‘Marhaen’ itu? Bung Karno ada menceritakan asal usul ‘Marhaen’ di dalam buku biografinya, “Soekarno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” karya Cindy Adam.

Pada suatu pagi sekitar tahun 1920-an, Soekarno mengayuh basikal tua miliknya, dan beliau mengayuhnya tanpa tujuan yang pasti. Kebetulan arah Sukarnoe pada hari itu menuju ke Bandung Selatan, suatu daerah pertanian di Desa Cibintinu. Sawah bendang yang menghijau kekuningan.

Suasana Bandung Selatan ketika itu, adalah daerah pertanian. Para petani mengerjakan sawahnya yang kecil, yang masing-masing luasnya kurang dari tiga hektar. Tanpa diduga, pandangan Soekarno terarah kepada sosok petani muda yang tengah giat mencangkul. Dia seorang diri. Soekarno pun tertarik untuk menghampiri petani muda tersebut.

Di pinggir sawah, Soekarno berdiri termenung, menatap petani muda yang terus menerus mengayunkan cangkul. Sejurus kemudian, Soekarno pun mendekati petani tadi. Kerana mengetahui seseorang sedang menghampiri, petani tadi menghentikan aktiviti mencangkul lantas memandang ke arah Soekarno.

Terjadilah perbualan bersejarah antara mereka berdua.

“Milik siapa yang engkau kerjakan sekarang ini wahai petani muda?”

“Saya, tuan,” jawab petani itu.

Soekarno bertanya lagi, “Apakah engkau memiliki tanah ini bersama-sama dengan orang lain?”

“Oo, tidak tuan. Kepunyaan saya sendiri.”

“Tanah ini kau beli?”

“Tidak. Warisan ayah kepada anak turun-temurun.”

Sejenak Soekarno terdiam. Melihat tamunya diam, si petani muda pun kembali mencangkul. Sedangkan Soekarno sedang giat berfikir melakukan penggalian mental. Menggali teori. Mencangkul filosofi di otaknya, hingga mengalirkan pertanyaan-pertanyaan lain.

“Bagaimana dengan sekopmu? Sekop ini kecil, tapi apakah kepunyaanmu juga?”

Petani muda kembali menghentikan kegiatan, dan menjawab, “Ya, tuan.”

Waqaf Saham

“Cangkul ini?”

“Saya punya tuan.”

“Bajak?”

“Saya punya, tuan.”

“Untuk siapa hasil yang kau kerjakan.”

“Untuk saya, tuan.”

“Apakah cukup untuk keperluanmu?”

Petani mengangkat bahu sambil mengerutkan dahinya. Tak terluah di mulut.

“Bagaimana sawah yang begini kecil mampu menyara seorang isteri dan empat orang anak?”

“Apakah ada yang dijual dari hasilmu?”

“Hasilnya sekadar cukup untuk kami makan. Tidak ada lebihan untuk dijual tuan.”

“Kau mempekerjakan sawah orang lain?”

“Tidak tuan. Saya tidak mampu.”

“Apakah engkau pernah buat kerja buruh yang lain?”

“Tidak, tuan. Hanya ini. Saya harus membanting tulang, akan tetapi kepayahan saya semua untuk saya.”

Kemudian Soekarno menunjuk sebuah pondok kecil seraya bertanya, “Siapa yang punya pondok kecil itu?”

“Itu pondok saya, tuan. Hanya pondok kecil dan juga rumah, tapi kepunyaan saya sendiri.”

“Jadi kalau begitu…semua ini engkau punya?”

“Ya, tuan.”

Setelah perbualan itu, Soekarno menanyakan nama petani muda itu. Dan petani itu menjawab, “Marhaen”.

Nama Marhaen adalah nama biasa di Tanah Jawa. Sama biasanya dengan nama Jones atau Smith di Amerika. Atau Megat dan Melur di Tanah Melayu.

Akan tetapi, dari dialog dengan Marhaen itulah Bung Karno mendapat ilham untuk rakyatnya. Sejak dari peristiwa itu, Soekarno akan menggelarkan rakyat bawahan atau rakyat yang kurang bernasib baik di tanah airnya sebagai ‘Marhaen’.

Dan terhasillah juga konsep Marhaenisme yang sempat dipopularkan oleh Soekarno setelah itu.
Artikel disumbangkan oleh Nicko Zulkarnain kepada The Patriots.