Sejarah Azan Dan Iqamat

0
643
views

Azan mula disyariatkan pada tahun kedua Hijriah. Mulanya, pada suatu hari Nabi Muhammad SAW mengumpulkan para sahabat untuk memusyawarahkan bagaimana cara memberitahu masuknya waktu solat dan mengajak orang ramai agar berkumpul ke masjid untuk melakukan solat berjamaah. Di dalam musyawarah itu ada beberapa usul. Ada yang mengusulkan supaya dikibarkan bendera sebagai tanda waktu solat telah masuk. Apabila bendera telah berkibar, hendaklah orang yang melihatnya memberitahu kepada umum. Ada juga yang mengusulkan supaya ditiup trompet seperti yang biasa dilakukan oleh pemeluk agama Yahudi.

Ada lagi yang mengusulkan supaya dibunyikan loceng seperti yang biasa dilakukan oleh orang Nasrani. Ada seorang sahabat yang menyarankan bahawa kala waktu solat tiba, maka segera dinyalakan api pada tempat yang tinggi dimana orang-orang dapat dengan mudah melihat ketempat itu, atau setidak-tidaknya asapnya dapat dilihat orang walaupun ia berada ditempat yang jauh. Yang melihat api itu dinyalakan hendaklah datang menghadiri solat berjamaah. Semua usul yang diajukan itu ditolak oleh Nabi SAW, tetapi beliau menukar lafaz itu dengan Assolatu jami’ah (marilah solat berjemaah). Lantas, ada usul dari Umar Al-Khattab jikalau ditunjuk seseorang yang bertindak sebagai pemanggil kaum Muslim untuk solat pada setiap masuknya waktu solat. Kemudian saranan ini agaknya dapat diterima oleh semua orang dan Nabi Muhammad SAW juga menyetujuinya.

Asal Usul Azan berdasar Hadits

Lafaz azan tersebut diperoleh dari hadits tentang asal usul azan dan iqamah:

Abu Dawud mengisahkan bahwa Abdullah bin Zaid berkata sebagai berikut:

“Ketika cara memanggil kaum muslimin untuk solat dimusyawarahkan, suatu malam dalam tidurku aku bermimpi. Aku melihat ada seseorang sedang menenteng (membawa) sebuah loceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya apakah ia ada maksud hendak menjual loceng itu. Jika memang begitu aku memintanya untuk menjual kepadaku saja. Orang tersebut malah bertanya,” Untuk apa? Aku menjawabnya, “Bahwa dengan membunyikan loceng itu, kami dapat memanggil kaum muslim untuk menunaikan solat.” Orang itu berkata lagi, “Maukah kau kuajari cara yang lebih baik?” Dan aku menjawab “Ya!” Lalu dia berkata lagi dan kali ini dengan suara yang amat lantang:

Allahu Akbar Allahu Akbar
Asyhadu alla ilaha illallah
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah
Hayya ‘alash sholah (2 kali)
Hayya ‘alal falah (2 kali)
Allahu Akbar Allahu Akbar
La ilaha illallah

Ketika esoknya aku bangun, aku menemui Nabi Muhammad.SAW, dan menceritakan perihal mimpi itu kepadanya, kemudian Nabi Muhammad. SAW, berkata, “Itu mimpi yang sebetulnya nyata. Berdirilah disamping Bilal dan ajarilah dia bagaimana mengucapkan kalimat itu. Dia harus mengumandangkan azan seperti itu dan dia memiliki suara yang amat lantang.” Lalu aku pun melakukan hal itu bersama Bilal.” Rupanya, mimpi serupa dialami pula oleh Umar dan dia juga menceritakannya kepada Nabi Muhammad SAW.

Asal Usul Iqamah

Setelah lelaki yang membawa loceng itu melafazkan azan, dia diam sejenak, lalu berkata: “Kau katakan jika solat akan didirikan:
Allahu Akbar, Allahu Akbar

Asyhadu alla ilaha illallah
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah
Hayya ‘alash sholah
Hayya ‘alal falah
Qod qomatish sholah (2 kali), ertinya “Solat akan didirikan”
Allahu Akbar, Allahu Akbar
La ilaha illallah

Begitu subuh, aku mendatangi Rasulullah SAW kemudian kuberitahu beliau apa yang kumimpikan. Beliaupun bersabda: “Sesungguhnya itu adalah mimpi yang benar, insya Allah. Bangkitlah bersama Bilal dan ajarkanlah kepadanya apa yang kau mimpikan agar diazankannya (diserukannya), karena sesungguhnya suaranya lebih lantang darimu.” Ia berkata: Maka aku bangkit bersama Bilal, lalu aku ajarkan kepadanya dan dia yang berazan. Ia berkata: Hal tersebut terdengar oleh Umar bin al-Khaththab ketika dia berada di rumahnya. Kemudian dia keluar dengan selendangnya yang menjuntai. Dia berkata: “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan benar, sungguh aku telah memimpikan apa yang dimimpikannya.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Maka bagi Allah-lah segala puji.”

– Hadits Riwayat Abu Dawud (499), at-Tirmidzi (189) secara ringkas tanpa cerita Abdullah bin Zaid tentang mimpinya, al-Bukhari dalam Khalq Af’al al-Ibad, ad-Darimi (1187), Ibnu Majah (706), Ibnu Jarud, ad-Daruquthni, al-Baihaqi, dan Ahmad (16043-redaksi di atas). At-Tirmidzi berkata: “Ini hadits hasan shahih”. Juga dishahihkan oleh jamaah imam ahli hadits, seperti al-Bukhari, adz-Dzahabi, an-Nawawi, dan yang lainnya. Demikian diutarakan al-Albani dalam al-Irwa (246), Shahih Abu Dawud (512), dan Takhrij al-Misykah (I: 650).

Lafaz Azan terdiri dari 7 bahagian:

Allahu Akbar, Allahu Akbar (2 kali)
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar”

Asyhadu alla ilaha illallah (2 kali)
“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah”

Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah (2 kali)
“Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah”

Hayya ‘alash sholah (2 kali)
“Mari menunaikan salat”

Hayya ‘alal falah (2 kali)
“Mari meraih kemenangan”

Ashsalatu khairum minan naum (2 kali)
“Shalat itu lebih baik daripada tidur” (hanya diucapkan dalam azan Subuh)

Allahu Akbar, Allahu Akbar (1 kali)
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar”

Lailaha ilallah (1 kali)
“Tiada Tuhan selain Allah”

Menjawab Azan

Apabila kita mendengar suara azan, kita disunnahkan untuk menjawab azan tersebut sebagaimana yang diucapkan oleh muazin, kecuali apabila muazin mengucapkan “Hayya alash shalah”, “Hayya alal falah”, dan “As shalatu khairum minan naum” (dalam azan Subuh).

Bila muazin mengucapkan “Hayya alash shalah” atau “Hayya alal falah”, disunnahkan menjawabnya dengan lafazh “La haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim” yang artinya “Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah”.

Dan bila muazin mengucapkan “Ashsalatu khairum minan naum” dalam azan Subuh, disunnahkan menjawabnya dengan lafaz “Shadaqta wa bararta wa ana ‘ala dzalika minasy syahidin” yang artinya “Benarlah engkau dan baguslah ucapanmu dan saya termasuk orang-orang yang menyaksikan kebenaran itu”.

Ayat di dalam Al-Quran yang terkait dengan azan (seruan):

Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).
Yunus 10:25

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.
Al Anfaal 8:24

Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.”
Al Ahqaaf 46:31-32

Azan itu adalah satu seruan kepada manusia untuk melaksanakan solat. Renungkanlah setiap bait azan itu, semoga kita lebih sedar akan seruan untuk kita mengEsakan Allah, melaksanakan sunnah rasulNya, menjalankan solat dan menuju kemenangan. InsyaAllah.

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here