Situs Perahu Kuno Punjulharjo, Gambaran Awal Kapal Kuno Sungai Batu

0
1415
views

Kembara JatengTim (Jawa Tengah, Jawa Timur) 2017

Terasa tubuh agak kepenatan ketika aku memasuki Jalur 1 di antara Pati dan Rembang. Ianya adalah antara jalan raya yang tersibuk di Indonesia dan aku agak fobia dengan Jalur 1 ini memandangkan setahun yang lalu aku terlibat dalam satu kemalangan yang agak serius di laluan ini, di Pekalongan.

Tambak garam berdekatan Situs Perahu Kuno Punjulharjo di Rembang, Jawa Tengah

Alhamdulillah, kereta tak banyak dan Rembang tak berapa jauh lagi. Cita-cita utamaku ke sini adalah untuk melawat sebuah perahu kuno di sebuah desa yang bernama Punjulharjo.

Kenapa perahu kuno ini signifikan buatku? Ianya kerana perahu kuno ini membuatkan aku bermimpi agar suatu hari nanti aku dapat melihat kapal kuno yang masih terbenam dalam perut bumi di Sungai Batu, Kedah.

 

Kayu asal perahu yang direndam di dalam larutan PEG 4000

Bagiku, melihat perahu kuno Punjulharjo ini bagaikan melihat kapal kuno Sungai Batu. Sesungguhnya mimpi itu indah…

Pada tanggal 28 Julai 2008, sebuah perahu kuno telah ditemukan secara tidak sengaja di sebuah desa di Jawa Tengah. Perahu yang berukuran 5 meter x 15 meter itu ditemukan di Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang ketika penduduk kampung sedang mengusahakan ‘tambak garam’.

Penulis dengan perahu kuno Punjulharjo

Tambak garam adalah istilah Bahasa Indonesia untuk kolam-kolam buatan yang cetek, yang dibuat khas untuk menghasilkan garam daripada air laut yang berdekatan.

Perahu kuno ini ditemui sekitar 400 meter dari pantai. Kemungkinan besar pada suatu masa dahulu, kedudukan pantai adalah di mana perahu ini ditemui.

Perahu dibersihkan sebelum proses desalinasi dilakukan

Ujian pentarikhan karbon yang dilakukan di Beta Analytic Radiocarbon Laboratory, Miami, Florida, USA mendapati perahu ini dibina pada abad ke-7 Masihi. Menurut Professor Pierre-Yves Manguin, berdasarkan kepada saiz perahu ini berkemungkinan besar ianya digunakan untuk berdagang dan berkemungkinan juga ia digunakan untuk merentas lautan dan tidak terbatas untuk kegunaan di pesisir pantai.

Lagi gambar proses pembersihan

Timbul pendapat yang mengatakan adanya perdagangan di antara Pulau Jawa dan sekitarnya di zaman Kerajaan Kalingga (Ho Ling). Malah, mungkin juga kapal-kapal dari Sumatera yang dikuasai oleh Sriwijaya berdagang ke sini.

Kebanyakan sumber di internet mengatakan perahu ini digunakan di zaman Kerajaan Medang atau Mataram Kuno tetapi kerajaan ini hanya wujud pada abad ke-8 Masihi. Oleh itu pendapat peribadiku lebih kepada zaman Kerajaan Kalingga dan kedudukan Rembang yang tidak begitu jauh daripada Jepara menguatkan lagi pendapatku ini.

Pemasangan fiber dilakukan

Selain perahu ini, dijumpai juga beberapa artifak kecil seperti kapak, tempurung kelapa, sebatang tongkat dan juga ukiran kepala yang diperbuat daripada batu.

Pada masa lalu, telah berkembang teknik pembuatan perahu yang menggunakan tali ijuk dan pasak kayu untuk membentuk badan perahu atau lebih dikenali sebagai teknik papan ikat dan kupingan pengikat (sew-plank and lushed-plug technique).

Rupa perahu selepas pemasangan fiber

Bagaimanakah proses konservasi perahu ini dijalankan?

Proses konservasi dijalankan secara in situ (di tapak asal) dengan proses desalinasi atau pembuangan garam dilakukan pada peringkat awal. Kemudian perahu ini direndam dengan larutan polyethylene glycol (PEG) 400 yang berlainan kepekatan untuk menghilangkan kandungan air dalam sel-sel kayu.

PEG 400 dimasukkan pada peringkat awal, kemudiannya PEG 4000 pula

Pada peringkat akhir, larutan PEG 4000  berkepekatan tinggi bersertakan proses pemanasan pada suhu 60ºC dilakukan untuk memperkuatkan struktur kayu perahu.

Proses pemuliharaan yang berlangsung sejak penemuannya pada tahun 2008 hanya akan berakhir pada tahun 2018. Pada tahun 2019, fasa baru strategi pelestarian perahu ini akan bermula.

Keadaan perahu kuno sebulan yang lalu

Begitulah serba ringkas teknik pemuliharaan atau pelestarian perahu kuno Punjulharjo ini.

Seperti yang kunyatakan awal tadi, aku amat berharap suatu hari nanti kapal yang terbenam di Sungai Batu dapat dipertontonkan sebagaimana aku melihat perahu kuno Punjulharjo bulan lalu.

Rujukan:

Kajian Lapangan di Situs Perahu Kuno Punjulharjo, Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang, Jawa Tengah

Laporan Hasil Kajian Konservasi Dan Konsep Pengembangan Perahu Kuno Rembang, Nahar Cahyandaru et al, 2010

Conservation Research And Treatment Programs: Case Study Of Ancient Boat Site In Rembang Regency, Waluyo Agus Priyanto, 2011

Comments

comments

Previous articleJejak Si Pemburu Kepala Manusia Di Dunia
Next articleTentang Komanwel
Seorang pengembara warisan yang fokus kepada tinggalan sejarah dan budaya setempat. Gemar membaca dan menulis itu cara beliau mengekspresi diri dan dunia marcapada
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here